Minggu, 02 November 2014

Mencoba Levitasi (Edisi Manusia Super)

Entah karena banyak waktu luang, atau hanya sanggup memikirkan tugas kuliah yang semakin menumpuk, saya dan teman-teman kemudian mencoba levitasi (baca: yang penting keliatan terbang)



Fotografi oleh: Putri Azka Gandasari
Pada suatu hari yang bukan Minggu kuturut ayah ke kota, ayahku yang ternyata wanita sedang mengajariku ilmu untuk menjadi manusia super. Tahap awal, kita berlatih lompat. iya, melompat. (yakinkan saya bahwa melompat itu keren)




Setelah itu, ayah wanitaku pergi ke kahyangan, meninggalkanku sendiri untuk membasmi musuhnya power ranger di bumi.
"ayah.. yah.. yah... jangan pergi... gi... gii...."


tak lama, musuh power ranger datang, saya diserang secara tiba-tiba.


 Tak henti berjuang disini, saya pun melawan pada akhirnya, karena kalo kata di tipi, jagoan mah menang belakangan.
walaupun dengan raut muka bahagia, akhirnya musuh pun dapat saya kalahkan.



Sejak saat itu, warga kota menyebut saya sebagai manusia super. walaupun hanya super menghapus papan tulis, tapi tak apa. karena setiap manusia super mempunyai kesuperannya masing-masing.




Catatan: Segera hadir foto-foto levitasi edisi selanjutnya.

Minggu, 26 Oktober 2014

Tentang Barisan yang Tak Lagi Saling Mengisi

Tentang Barisan yang Tak Lagi Saling Mengisi
Langit termangu
Bilah bulan terpaku
Pasir beku senyap membuntu
Lampu tiang besi bersendu
Mendengar kumengadu
Ceritaku
yang telah mereka pahami oleh waktu
Tanyaku
yang mereka sahut pun tak mampu
Sedang aku
lanjut menyapu dalam bisu


Jakarta, 2014
 


 Saya tahu, segala sesuatu tidak ada yang akan tetap utuh. Meski berjuta-juta tahun, sampah styrofoam pun akhirnya hancur juga di dalam tanah. Ini bukan tentang sampah ataupun tanah. Ini adalah keadaan yang saya analogikan sendiri.

Pernyataan bahwa pasti akan ada yang datang dan ada yang pergi, mengganggu pikiran saya. Seperti yang sedang terjadi pada rumah kedua lengkap dengan keluarga bagi saya. Banyak yang pergi, sekadar menghapus penat atau telah memilih mana yang harus diprioritaskan. Banyak yang meninggalkan, untuk tempo waktu yang sebentar maupun tak tahu akan kembali atau tidak. Saya tahu itu adalah pilihan. Yang saya tidak tahu, apakah berhak menyalahi pilihan tersebut atau tidak.

Bisa jadi ini mutlak dialami semua manusia, yang tentu saya pun mengalaminya, sudah atau belum. Yang membuat saya mengutuki persoalan ini adalah pemikiran mencari alasan untuk datang kembali kepada orang lain yang tak sadar sebenarnya ditujukan untuk diri sendiri.

Minggu, 10 Agustus 2014

Sekat


Kita adalah dua bangku taman yang berdekat
Disinggahi angin tak serupa
Direbahi daun kering berbeda

Aku membisikkan sosokmu
Kau pun mengukir namaku
Pada relung kita masing-masing

Kita tiada didampar geram
Karena tak mengapa kau cumbu dia
Aku cumbu yang lainnya



Jakarta, 2014

Jumat, 21 Maret 2014

Selamat Hari Puisi!



Puisi untuk Puisi
Diah Ayu Wardani

Katanya, kau hanyalah sepercik tertulis
Kubilang, tulisan yang dilapisi dentuman jiwa mengalir di setiap baitnya
Katanya, kau hanyalah angkara muram
Kubilang, muram yang berlari ke pelataran renung
Katanya, kau hanyalah omong hampa seorang pecinta
Kubilang, cintalah yang mencarimu ke mana-mana
Katanya, kau hanyalah retorika bisu yang apatis
Kubilang, kebenaran bersenandung di akarnya
Katanya, aksaramu mati pengaruhnya
Kubilang, coretanmu mengoyak sejarah peradaban

Selamat hari puisi
Tak perlu sedunia, cukup sehati saja

Jumat, 07 Maret 2014

Dalam sebuah Proses



 Berproses itu menyenangkan. berproses itu melelahkan. Berproses itu memuaskan.


Sudah lebih dari satu semester ini saya mengikuti kegiatan berteater di Bengkel Sastra UNJ. Berteater bisa mengolah tubuh, olah vokal, dan olah sukma. Jangan ditanya saya sudah jago atau belum, sebab saya baru bermain satu pementasan.

Pementasan perdana ini dimainkan semua oleh angkatan 2013. Diangkat dari naskah milik senior kami, Sumihar Deny, disutradarai oleh Fhatoni yang juga senior kami, kami pun memulai proses.
Proses kami diawali tanpa mengkaji naskah dan tokoh terlebih dahulu, karena menurut sutradara, semakin membuat ribet saja. benar juga, kebanyakan teori membuat pusing.
Setelah casting untuk para tokoh, terpilihlah 11 orang aktor utama (termasuk saya). Sesuai jadwal, kita masuk proses blocking atau mulai bermain seolah di panggung. Intensitas latihan kami berjalan dengan memakan waktu tiga kali seminggu, sampai lama kelamaan kita berlatih setiap hari agar hasil lebih memuaskan.
Blocking

Menjelang hari pementasan, masih banyak yang harus dikerjakan. Mulai dari properti yang kita buat 4 hari sebelum pentas, gencar-gencarnya promosi di sosial media, penyebaran poster dan tiket, dan menyantap martabak yang dibawakan oleh seorang senior kami sesekali.

Pengarahan dari senior

Pembuatan properti

Aktor lain

Selasa, 07 Januari 2014

Tentang Selembar Rasa




Menemukan selembar kertas berisi catatan membungkus sebongkah rasa, yang ditulis dua tahun lalu. Kok kayaknya ganjen amat...



Bahagia itu sederhana,
Pun hanya mengingat kisah dibalik selembar rasa yang hangat.