Jumat, 02 Maret 2012

Ehem..

Cuma ngasih tau, gue udah memiliki:


Jadi bisa pamerin ke polisi lalu lintas.

Ps: jangan komentarin hidung gue, plis, jangan...

Sabtu, 18 Februari 2012

Apa sih 'Takdir' itu?

Kilas balik kemarin.
Kamis 16 Februari, sekolah gue ngadain pensi.
Jumat 17 Februari, tepat Billie Joe Armstrong berusia 40 tahun, dan tepat gue berusia 17 tahun. dihari itu, gue lebih banyak senyum mengucapkan 'iya, makasih ya amiin' ke orang-orang. Di hari itu, gue sempat beberapa kali menangis dan menyembunyikan ke teman-teman sekolah. saat ketahuan menangis, gue mengelak. Iya, nangis. Karena orang di rumah dan sebagian teman deket gue belum ngucapin. Sampai malam harinya, orang rumah dan 2 teman deket gue memberi kejutan. dan di tanggal 20, gue diberi kejutan oleh teman-teman sekolah.

Mungkin, di hari itu, gue ditakdirkan lahir tanggal 17 Februari, bertepatan dengan hari lahir sang idola, Billie Joe Armstrong. mungkin, di hari itu, gue ditakdirkan tersenyum di luar, dan menangis di dalam. mungkin, di malam itu, gue ditakdirkan diberi kejutan. mungkin, di tanggal 20, gue ditakdirkan diberi kejutan oleh teman-teman sekolah dan pulang dengan seragam basah disiram air tiga botol dan muka abstrak bekas peperan krim kue.

Oke, jadi, takdir, ya? takdir itu apa sih? setau gue, takdir itu adalah jalan hidup yang emang harus ditempuh sama seseorang, dirancang sama tuhan yang emang udah jelas end of the storynya itu bakakan gimana. dan, ya kita gak bakalan bisa lepas sama takdir itu.




Menurut Wikipedia sih, takdir itu:
"ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia."

Dan, katanya Raditya Dika di blognya sih gini:

Jumat, 13 Januari 2012

Postingan dimana yang Nulis Lagi Berpikir

*terlihat sinar kemilau putih yang silau, menyebar dan memudar, tersadar saat ini adalah dunia nyata*

Ini dimana? Sekarang tahun berapa? Gue kelas berapa? Gue sekarang udah setua apa? Apakah kelanjutan hubungan Anang-Ashanty berbanding lurus dengan kurva konsumsi tahu tempe?

Duarrrr.
sekarang, ini gue. yang katanya telah bernama Diah Ayu Wardani. disinilah gue. seorang anak dengan kenyataan talenta minimnya, gue hidup.
2012. terlihatlah gue, sebagai anak kelas dua SMA. yang pada nyatanya, kelakuan dalam diri ini masih seperti balita kekurangan nutrisi asi. 17 Februari 16 tahun saat yang lalu, gue lahir dengan kabar, kakinya udah nongol sedikit dari perut saat masih di dalam taksi perjalanan ke tempat rumah sakit bersalin.
Balik memikirkan masa sekarang. terasa, 16 tahun itu cepet banget. iya, 16 tahun itu emang umur seseorang yang udah mengerti ini itu. yang udah mengenal, gimana sih kehidupan di masa remaja? ooh, ternyata gini ya. dulu di masa 14 tahun kiranya, hal-hal kelakuan remaja yang agak melebihi, cukup terasa asing bagi gue. 3 tahun yang lalu, gue belum terbiasa, seperti melihat teman ngerokok, minum, berbuat nakal, atau hal remaja yang berkesan sebenarnya tidak dibolehkan. sekarang, ah biasa lah, anak muda gimana sih. dan ngerasa enjoy dengan kondisi itu.
yang dulu masih terasa polos, belum tau ini itu. sekarang, gue dapet jawabannya. usia pasti terus berlanjut. kelakuan dan sifat pun mau gak mau harus mengikuti hendaknya usia.
gini, gue, 17 tahun kurang 35 hari. kelakuannya? jalan aja masih suka loncat-loncat. saat pelajaran di sekolah, sukses tertidur dengan nistanya. mengartikan sekolah itu, hanya melihat jam, apakah sudah waktunya untuk jam istirahat atau jam pulang. bertingkah cacat, suka gelantungan di pohon mangga rindang di sekolah. tak absen palakin adik kelas.
Sebenernya gue sadar, 17 tahun kurang 35 hari, usia, sifat, kelakuan wajib sejajar. tak jarang suara batin gue manggil "wah, kapan mau kelakuan bisa mengikuti jalannya usia? udah enggak lah elu masih bertingkah cacat gitu". iya, nyet. gue sadar kok. gue kelas sebelas. 17 tahun kurang 35 hari. 6 taun lagi mungkin gue udah menjadi wanita yang sudah mencari nafkah sendiri. 8 tahun lagi kira-kira gue udah nikah. berlanjut, punya anak. gue bakalan jadi orang dewasa. bakal memikirkan ribetnya punya keluarga. iya, jujur, gue belom siap. belom siap merubah pola pikir menuju jenjang kedewasaan. tapi gue emang harus. emang udah takdir.

Rabu, 28 Desember 2011

Review Manusia Setengah Salmon

Tanggal 24 Desember lalu, jam setengah 10 pagi tepatnya, langsung gue ke Gramedia buat nyari buku sesat terbarunya Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon.


Langsung aja, sebelumnya gue pikir, harga 42ribu untuk sebuah buku ternak ikan kayak gitu cukup mahal. Setelah gue lihat, raba, dan terawang, emang kayaknya harganya pas. Liat dari ketebalan bukunya, cover depan, dan halaman dibaliknya yang terpampang 24 pose ajaib Radith yang bikin kita nelen baygon secepatnya. Dan sebuah pembatas buku yang bentuknya gak tau gue harus bilang gimana.
Dengan 18 bab di dalamnya, ini lebih banyak dari buku-buku sebelumnya. Isinya beda dari Kambing Jantan, yang masih terasa kental berbentuk Blog. Beda dari Cinta Brontosaurus, Radikus Makan Kakus, atau Babi Ngesot, yang banyak berisi pengalaman bodohnya. Beda dari Marmut Merah Jambu, dominan berisi pengalaman-pengalaman cintanya yang sesekali bikin gue ‘nyess’, bikin gue sering ngomong “anjrit, gue pernah ngalamin ini nih”. Buku keenam ini berbeda dari sebelumnya.

Beberapa bab di dalamnya:
‘Ledakan Paling Merdu’, menceritakan bokapnya sering senam kentut pagi hari yang memberinya pesan moral tentang kebersamaan bersama sang ayah.
‘Akibat Bertanya Kepada Orang yang Salah Tentang Ujian’, pertanyaan dari para followers Twitternya yang dijawab dengan jawaban asal khasnya, dirangkum dan dimasukkan buku.
‘Sepotong Hati Dalam Kardus Cokelat’, ketika baru putus dan nyokapnya ngasih tau kalo mereka akan pindah rumah. Membuatnya berpikir, bahwa putus cinta sejatinya adalah sebuah perpindahan. Perpindahan hati, sekalipun masih ingin menetap.
‘bakar saja keteknya’, tentang sopirnya yang bau ketek akut. Gue juga gak tau kenapa dia cerita tentang sopirnya, apa ada nada-nada cinta? Entah.
‘interview with hantus’, hasil dari semedi di gunung Merapi. Berkat semedinya, dia bisa berkomunikasi dengan para makhluk halus.
‘jomblonology’, teori absurd seputar jomblo berkaitan dengan ekonomi. Mulai dari ‘macam-macam jomblo menurut penyebabnya’, sampai ‘mencari pacar dengan bauran pemasaran’. Bab ini pernah dimuat di blognya (Blogdetik) dan dikembangkan tulisannya.
‘penggalauan’, seringkali buat #penggalauan di Twitter, ia pilih beberapa teori-teorinya yang mana untuk masuk di buku.
‘manusia setengan salmon’, berawal saat berada di kondangan salah seorang teman. Lalu berpikir, hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah satu hal yang pasti. Menyadari banyak yang berubah di sekitarnya maupun dirinya sendiri. Menyadari, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebik baik, gak perlu menjadi manusia super, hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.

Masih ada 10 bab lain yang gak gue tulis disini. Bukannya sibuk atau apa. Iya, males nanti kepanjangan. Masih penasaran, silahkan membaca. Saran gue, sediakan ember dan obat anti mabok disamping kalian.

Sekian Review Manusia Setengah Salmon. Di tanggal 28 Desember ini, selamat 27 tahun bang Radith. Semoga tetap menjadi penulis bodoh yang sangat jenius.