Jumat, 13 Januari 2012

Postingan dimana yang Nulis Lagi Berpikir

*terlihat sinar kemilau putih yang silau, menyebar dan memudar, tersadar saat ini adalah dunia nyata*

Ini dimana? Sekarang tahun berapa? Gue kelas berapa? Gue sekarang udah setua apa? Apakah kelanjutan hubungan Anang-Ashanty berbanding lurus dengan kurva konsumsi tahu tempe?

Duarrrr.
sekarang, ini gue. yang katanya telah bernama Diah Ayu Wardani. disinilah gue. seorang anak dengan kenyataan talenta minimnya, gue hidup.
2012. terlihatlah gue, sebagai anak kelas dua SMA. yang pada nyatanya, kelakuan dalam diri ini masih seperti balita kekurangan nutrisi asi. 17 Februari 16 tahun saat yang lalu, gue lahir dengan kabar, kakinya udah nongol sedikit dari perut saat masih di dalam taksi perjalanan ke tempat rumah sakit bersalin.
Balik memikirkan masa sekarang. terasa, 16 tahun itu cepet banget. iya, 16 tahun itu emang umur seseorang yang udah mengerti ini itu. yang udah mengenal, gimana sih kehidupan di masa remaja? ooh, ternyata gini ya. dulu di masa 14 tahun kiranya, hal-hal kelakuan remaja yang agak melebihi, cukup terasa asing bagi gue. 3 tahun yang lalu, gue belum terbiasa, seperti melihat teman ngerokok, minum, berbuat nakal, atau hal remaja yang berkesan sebenarnya tidak dibolehkan. sekarang, ah biasa lah, anak muda gimana sih. dan ngerasa enjoy dengan kondisi itu.
yang dulu masih terasa polos, belum tau ini itu. sekarang, gue dapet jawabannya. usia pasti terus berlanjut. kelakuan dan sifat pun mau gak mau harus mengikuti hendaknya usia.
gini, gue, 17 tahun kurang 35 hari. kelakuannya? jalan aja masih suka loncat-loncat. saat pelajaran di sekolah, sukses tertidur dengan nistanya. mengartikan sekolah itu, hanya melihat jam, apakah sudah waktunya untuk jam istirahat atau jam pulang. bertingkah cacat, suka gelantungan di pohon mangga rindang di sekolah. tak absen palakin adik kelas.
Sebenernya gue sadar, 17 tahun kurang 35 hari, usia, sifat, kelakuan wajib sejajar. tak jarang suara batin gue manggil "wah, kapan mau kelakuan bisa mengikuti jalannya usia? udah enggak lah elu masih bertingkah cacat gitu". iya, nyet. gue sadar kok. gue kelas sebelas. 17 tahun kurang 35 hari. 6 taun lagi mungkin gue udah menjadi wanita yang sudah mencari nafkah sendiri. 8 tahun lagi kira-kira gue udah nikah. berlanjut, punya anak. gue bakalan jadi orang dewasa. bakal memikirkan ribetnya punya keluarga. iya, jujur, gue belom siap. belom siap merubah pola pikir menuju jenjang kedewasaan. tapi gue emang harus. emang udah takdir.

Rabu, 28 Desember 2011

Review Manusia Setengah Salmon

Tanggal 24 Desember lalu, jam setengah 10 pagi tepatnya, langsung gue ke Gramedia buat nyari buku sesat terbarunya Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon.


Langsung aja, sebelumnya gue pikir, harga 42ribu untuk sebuah buku ternak ikan kayak gitu cukup mahal. Setelah gue lihat, raba, dan terawang, emang kayaknya harganya pas. Liat dari ketebalan bukunya, cover depan, dan halaman dibaliknya yang terpampang 24 pose ajaib Radith yang bikin kita nelen baygon secepatnya. Dan sebuah pembatas buku yang bentuknya gak tau gue harus bilang gimana.
Dengan 18 bab di dalamnya, ini lebih banyak dari buku-buku sebelumnya. Isinya beda dari Kambing Jantan, yang masih terasa kental berbentuk Blog. Beda dari Cinta Brontosaurus, Radikus Makan Kakus, atau Babi Ngesot, yang banyak berisi pengalaman bodohnya. Beda dari Marmut Merah Jambu, dominan berisi pengalaman-pengalaman cintanya yang sesekali bikin gue ‘nyess’, bikin gue sering ngomong “anjrit, gue pernah ngalamin ini nih”. Buku keenam ini berbeda dari sebelumnya.

Beberapa bab di dalamnya:
‘Ledakan Paling Merdu’, menceritakan bokapnya sering senam kentut pagi hari yang memberinya pesan moral tentang kebersamaan bersama sang ayah.
‘Akibat Bertanya Kepada Orang yang Salah Tentang Ujian’, pertanyaan dari para followers Twitternya yang dijawab dengan jawaban asal khasnya, dirangkum dan dimasukkan buku.
‘Sepotong Hati Dalam Kardus Cokelat’, ketika baru putus dan nyokapnya ngasih tau kalo mereka akan pindah rumah. Membuatnya berpikir, bahwa putus cinta sejatinya adalah sebuah perpindahan. Perpindahan hati, sekalipun masih ingin menetap.
‘bakar saja keteknya’, tentang sopirnya yang bau ketek akut. Gue juga gak tau kenapa dia cerita tentang sopirnya, apa ada nada-nada cinta? Entah.
‘interview with hantus’, hasil dari semedi di gunung Merapi. Berkat semedinya, dia bisa berkomunikasi dengan para makhluk halus.
‘jomblonology’, teori absurd seputar jomblo berkaitan dengan ekonomi. Mulai dari ‘macam-macam jomblo menurut penyebabnya’, sampai ‘mencari pacar dengan bauran pemasaran’. Bab ini pernah dimuat di blognya (Blogdetik) dan dikembangkan tulisannya.
‘penggalauan’, seringkali buat #penggalauan di Twitter, ia pilih beberapa teori-teorinya yang mana untuk masuk di buku.
‘manusia setengan salmon’, berawal saat berada di kondangan salah seorang teman. Lalu berpikir, hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah satu hal yang pasti. Menyadari banyak yang berubah di sekitarnya maupun dirinya sendiri. Menyadari, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebik baik, gak perlu menjadi manusia super, hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.

Masih ada 10 bab lain yang gak gue tulis disini. Bukannya sibuk atau apa. Iya, males nanti kepanjangan. Masih penasaran, silahkan membaca. Saran gue, sediakan ember dan obat anti mabok disamping kalian.

Sekian Review Manusia Setengah Salmon. Di tanggal 28 Desember ini, selamat 27 tahun bang Radith. Semoga tetap menjadi penulis bodoh yang sangat jenius.

Selasa, 06 Desember 2011

Hal Random itu...

Buset. 1 bulan 4 hari gue gak ngebog. berasa lenyap di segitiga bermuda gue. okelah. here i am.

Well, gak tau kenapa, akhir-akhir ini banyak hal yang berseliweran di pikiran gue. yang actually mau gue jelasin semuanya disini. tapi ya, namanya juga anak males, selalu gue tunda-tunda.

Nah itu, menunda. salah satu sifat jelek gue. misalnya gini, saat itu gue dapet ide ngeposting, gue bilang, "ah, nanti aja mostingnya, belom dapet feel." dan 10 menit kemudian, "hesemeleh tadi gue mau mosting apaan yak?".

Gue juga gak ngerti, kadang gue itu suka pesimis kalo mau ngelakuin sesuatu. ambil gini, seperti yang udah gue bilang, cita-cita gue itu mau jadi penulis. dan untuk merealisasikannya gue nulis blog. dan ini yang susah, saat mungkin suatu hari gue udah bisa nerbitin buku gue, yang isinya observasi pengalaman hidup gue, seperti buku-bukunya Raditya Dika itu, apakah gue bisa jamin buku gue itu bakalan ada yang mau beli? nah ketika buku gue itu ternyata ada yang beli, entah untuk ngelap meja atau ganjel lemari dirumahnya. mau gak mereka untuk ngebacanya? ngebuat mereka tertarik dengan apa yang ada di dalem buku gue itu. ngebuat mereka ingin terus membaca sampe halaman terakhir. ngebuat mereka jadi seperti merasakan, menggambarkan, meresapi tulisan gue. apakah gue mampu ngebuat semua itu jadi kenyataan? sekali lagi, gue udah pesimis duluan. gue emang cemen.
Gue juga suka mengkhayal. mengkhayal itu kegiatan yang paling asoy tanpa nimbulin masalah. kadang gue mengkhayal gini, tiba-tiba entah mengapa gue sedang berada di dunia Narnia, gue bertemu dan jatuh cinta pada seorang vampir yang tampan. dan 73 episode kemudian, gue mengalami amnesia dan cinta gue beralih kepada Voldemort. lalu gue dan Voldemort ditugaskan mulangin cincin ke Mordor. setelah berhasil mulangin cincin, gue dan Voldemort hidup bahagia dengan tiga anak babi yang lucu. keren abis.
Nah, dan yak, sinetron. gue gak habis pikir, 2011 men! sinetron masih aja berkeliaran di televisi. kita udah tau sendiri, di dalam sinetron, pasti ada pemeran jahat dan baik, miskin dan kaya, alim dan suram. tambah lagi, selalu dikaitkan dengan 'masuk-rumah-sakit', ada lagi 'ketabrak-mobil-dengan-gaya-slowmotion', ataupun 'tabrakan-lalu-kawin'. basi abis. oh men, i think it's time to make a something new. gak cuma acara menye-menye dan backsound yang suaranya kayak petir. yeah, it's just my opinion, dude.
Dan, gue pengen bisa terbang.
gue pengen punya doraemon.
gue pengen turun hujan bengbeng, makanan yang ah-najis-enak-banget itu.

Oke, gue baru sadar, post kali ini random banget.

Kamis, 03 November 2011

Antara Kamu dan Pelajaran itu

Wah, halo November, revolusi bumi yang tiba pada bulan kesebelas ini. biasanya, akhir Oktober lalu, orang-orang di belantika sana ramai di Twitter dengan hastag #novemberwish itu. entah doa mereka agar ingin hasil jarahan sendal jepit di mesjid tambah banyak, atau produksi upil melimpah, gue juga gak ngerti. yang jelas, #novemberwish gue cuma satu, yaitu: masih berwujud manusia.

Lagi iseng, gue nyoba mengemukakan persamaan seorang manusia dengan pelajaran sekolah.

Kamu itu bagai pelajaran Matematika, perlu cara yang rumit untuk bisa kumengerti hasilnya.
Kamu itu bagai pelajaran Bahasa Indonesia, harus tanpa cacat agar kamu bisa menilaiku dengan sempurna.
Kamu itu bagai pelajaran Kimia, aku salah sedikit zat saja bisa berdampak fatal.
Kamu itu bagai pelajaran Sejarah, mengetahui masa lalumu bisa menjadi alasanku mendekatimu.
Kamu itu bagai pelajaran olahraga memacu jantungku, berpeluh keringatku saat dekatmu.
Kamu itu bagai pelajaran seni musik, menghanyutkanku ke dalam aliran irama romantika perasaanku.

Sekiranya, ku ingin berlari, menggapai acuanku tuk meraih nilai sempurna dimatamu.
tanpa cacat, tanpa kurang.
bergerumul ke dalam satu pengharapan,
entah buruk atau indah, entah membuatku terpuruk kekecewaan atau melambungkan perasaan bahagia.
menunggu kepastian.


Oke, jangan tanya abis ngomong apaan. gue sendiri aja gak tau.

Selasa, 25 Oktober 2011

Menulis itu Tiadalah Mudah

Lo punya cita-cita kan? Pasti.
Lo punya impian kan? Iya.
Oke, gue juga. tapi, seberapa besar niat buat ngewujudkan cita-cita lo?

hm, gue punya impian, impian gue adalah menjadi peri imut yang tiap hari naik kuda poni sama pangeran tampan, eh bukan, impian gue sebenernya ada lah menjadi seorang Penulis, seperti yang udah gue jelasin di postingan sebelumnya.
















Gue tau, dalam mewujudkan cita-cita itu, gue harus berusaha. kalo gue diem dirumah berendem di air lumpur terus, gak bakalan cita-cita gue bisa terwujudkan.

Semenjak terkenalnya Raditya Dika dan buku-bukunya, gue ngerasa kalo gue mempunyai peluang banyak buat jadi penulis, gue ngerasa jadi penulis itu gampang. segampang ngerjain soal matematika anak TK. gue emang idiot.

Tapi, setelah gue telaah dan cermati, jadi penulis itu gak segampang apa yang gue kira. gue cuma ngeliat sosok Raditya Dika dari keberhasilannya. gue gak kepikiran ketika awal dia bikin buku, apakah langsung berhasil? enggak.
pertama kali bukunya keluar, apa lo kira banyak orang yang dateng saat talkshownya? enggak.
saat talkshow pertama buku Kambing Jantan, yang dateng bisa diitung, mungkin kira-kira sepuluh orang. mungkin beberapa diantaranya yang dateng itu beranggapan kalo acara itu adalah acara 'manusia pendek makan beling', atau semacam acara sirkus. iya, itu sedih.
contoh lagi, ketika Alit bikin buku Shitlicious, memakan waktu empat tahun untuk ngebuat naskah itu menjadi buku. woah, bayangin. empat tahun. empat kali lebaran, men! dan mungkin di pertengahan proses pembuatan bukunya, Alit bisa aja pernah ngerasa down, putus asa, putus harapan, atau apalah. sampai akhirnya bukunya diterbitkan.

gue jadi lemes, gak yakin bisa nerusin cita-cita gue itu. kalopun naskah gue udah siap untuk dibukuin, apakah ada penerbit yang mau nerbitin buku gue? mungkin cuma penerbit yang mengeluarkan buku peternakan yang mau nerbitin. dan seandainya ada yang penerbit yang mau nerbitin, apakah bisa jamin buku gue bakal laku? apa ada yang mau beli? ya, mungkin ada yang beli buat keset kamar mandi.
udah ah, jadi lemes.