Senin, 23 September 2013

Cinta Kandas karena Usia

Judul puisi: 'Belum Ada Judul karena Si Pengarang Tidak Memberitahu'

Kala cintanya membentur tembok usia
Terjerat akar pinus
Hingga sesak, lalu mati

Saat kasihnya terjatuh ke dasar samudera
Dan tangannya tak sampai
Untuk menggapai dari atas buritan

Ia pernah berkata
Bahwa cintanya mampu menerabas semua yang terbatas
Tapi ia tak tahu
Bahwa cintanya kini bagai daun yang ingin memeluk akarnya

Jadi, gue mempunyai tugas organisasi kampus secara berkelompok, membuat drama singkat, dan hasilnya berjudul 'Cinta Kandas karena Usia', berkisah seorang mahasiswa semester akhir yang menaruh hati yang salah kepada seorang anak tk. Iya, pedopil yang tidak elit. Perbedaan usia yang merapuhkannya.
Puisi yang juga dilagukan ini diciptakan oleh Firdaus, gue lupa nama lengkapnya siapa, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNJ.
Pokoknya begitu.

Selasa, 27 Agustus 2013

Maha + Siswa

Salam mahasiswa.
Iya, katanya sih, gue sudah resmi menjadi penganyam ilmu di Universitas Negeri Jakarta.

Beberapa waktu lalu, gue sering mengeluh, kenapa waktu terus ingin berlari, sangat ingin mengalahkan, yang sebenarnya ini bukanlah perlombaan. Gue terus berharap waktu bisa terulang, atau setidaknya berhenti sejenak disaat gue, kalian, atau kita, sedang mencintai sebuah kebersamaan masa sekolah.

Sampai pada saat Masa Pengenalan Akademik, atau yang biasa disebut Ospek di perkuliahan. Mereka, para senior menjelaskan apa itu mahasiswa, mengapa, sampai bagaimana kita menjadi mahasiswa.
Seolah peluru menusuk, gue terdiam, terkesima. Mereka adalah pendiskusi dan penggerak hal yang ada di sekitar masyarakat.
Ini semacam batas perubahan budaya. Yang dulu, gue masih suka endap-endap jam pelajaran menuju penghilang kepenatan, hanya ingin bermain bersama.
Dan sebentar lagi gue akan menjadi mereka, mahasiswa.

Mereka berkata;
Mahasiswa takut pada dosen,  dosen takut pada dekan, dekan takut pada rektor, rektor takut pada menteri, menteri takut pada presiden, dan presiden takut pada mahasiswa.
Hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia.

Kamis, 22 Agustus 2013

Es Krim Rasa 'Kamu'

Es Krim Rasa 'kamu'

Entah, aku merasa ungkapan itu tepat.
ya, kamu. es krim rasa kamu.
rasanya? ya itulah rasamu.
menyajikan kesejukan sesaat. mungkin harus kujaga agar tetap 'utuh', harus belum mencair, belum leleh dan lenyap.
jika lengah kubiarkan? tentu layaknya es krim. leleh, pergi, hilang, habis.
jika es krim jatuh ke hamparan.
bedanya denganmu, kamu pergi dan mungkin menghindar dengan tujuan menemukan singgah lain.
diamlah aku, memikirkan, sepercik penyesalan.
kenapa harus pilih es krim rasa 'kamu' diantara yang lain?
menyesal. kenapa tidak kuletakkan es krim rasa 'kamu' itu ke dalam kobaran api sebelum kamu dahulu yang meninggalkan. agar ku tak rasakan penyesalan.
-
Judul di atas terinspirasi dari Blognya om/kakak/abang Dara Prayoga, yang berjudul sama: Es Krim "Rasa Kamu". Tentu udah dapet izin atas judul yang sama dengan yang bersangkutan.
Isinya, gue racik sendiri. mueheuhehe.

Rabu, 05 Juni 2013

Tentang Memilih Jalan Setapak Selanjutnya

Gue baru sadar, ternyata postingan terakhir, gue tulis pada saat sebelum negara api menyerang, dan Mpok Nori masih perawan.

Saat-saat ini, gue sedang disibukkan dengan kegiatan mencari pendidikan tingkat lanjut. mendapat kesempatan memilih berbagai jalan setapak berujung masa depan yang berbeda-beda. terlihat pada ujung jalan ilusi-ilusi masa depan, akankah kelak gue menjadi sarjana sukses, atau jualan somay keliling komplek.

Jadi, menurut gosip suku Maya, katanya sih gue lulus SNMPTN.
katanya sih gitu


Gue langsung datengin nyokap.
"mak liat maaakkkk!!! (dengan wajah seperti habis menang togel)"
nyokap ngeliat lalu bilang, "yah, yaudah". 
udah, gitu doang.

Tapi lalu dia bilang, katanya sih dia cukup bangga dengan gue. sedikit melegakan hati.

Ada beberapa komentar tentang minat gue melanjutkan pendidikan ini.
beberapa waktu lalu, gue berbincang dengan guru Bahasa Indonesia di sekolah.
"Kamu mau jurusan Bahasa Indonesia?"
"iya pak"
"mau jadi guru?"

"enggak. saya gak minat jadi guru pak"
"lalu? mau jadi apa kamu?"
gue diam.

"lo pengin masuk Sastra Indonesia? yakin? emang nanti jadi apa selain guru" -
salah satu teman.
"masuk Sastra Indonesa? kenapa gak masuk institut penelitian kuda poni berkelamin ganda aja?" - salah satu teman lain, dulunya waras.
"elu pengin Sastra Indonesia? elu orang Indonesia emang gak cukup udah belajar Bahasa elu sendiri?" - sepupu, mantan mahasiswa abadi.

Pertanyaan seperti yang terakhir ini nih, jadi pengin ngunyah tanah gambut.
banyak yang menganggap pelajaran Bahasa Indonesia itu gampang, karena itu adalah bahasa kita sehari-hari. Tapi, jujur, selama sekolah, jarang sekali gue mendapat nilai Bahasa Indonesia dengan sempurna, walaupun memang pelajarannya terlihat mudah, yang mungkin orang lain juga berpikir seperti itu.
hal inilah yang membuat Bahasa dan Sastra Indonesia terlihat menarik di mata gue. seperti ada rahasia terpendam yang larut dalam pelajaran ini, dan gue ingin menemukannya.


Seperti  Jim Henson bilang, “If you care about what you do and work hard at it, there isn't anything you can't do if you want to.”
yang artinya: bukalah google translate.

Sabtu, 20 April 2013

Kepada Perpisahan

Aku tidak cemas. masih beralaskan tempat tidur. tidak cemas untuk segera bersiap. tidak cemas untuk segera pergi, ke tempat pemberian ilmu (menurut mereka). atau tempat mengumpulkan seikat kenangan dan kebersamaan berpadu, dibungkus senyuman (menurutku).
hari ini, aku tidak terburu waktu.


Sudah terputar lagu Sheila On7 Ke-21 dikamarku, terdengar yang berjudul 'Sebuah Kisah Klasik'.
kali ini, aku mulai cemas.


 seperti sebuah tempat puzzle yang dinamakan sekolah, yang hampa, kosong. potongan-potongan puzzle itu telah meninggalkan. bertujuan harus mencari tempat hinggap baru. menyesuaikan tempat hinggap baru. sekalipun masih belum ingin berpindah.

aku cemas, bagaimana harus mencari cara, tempat, tujuan, rasa, dan kebersamaan seperti ini pada hempasan lain.





Kepada rasa perpisahan, aku takut kepadamu.